Jumat, 02 Desember 2011

[GALERI]Kenalkan jagoan saya...

Abyan Faiz Arifianto (17 Desember 2008)
...penerang yang menjadi pemenang...
Berani lahir tanpa saya tungguin, coz saya masih dalam perjalanan Jakarta-Pati...
Setelah lahir, saya shock...dia adalah saya waktu masih kecil...
Setelah beberapa tahun...mamanya gantian shock, apa yang saya suka, dia suka, apa yang saya benci, dia juga benci...
haha...
Bentar lagi ulang tahun euy...!! Papa bisa pulang ga ya? hmmm...
Ijinkan saya bisa pulang saat dia merayakannya...amin ya Allah...
#Baim mode : on

[OPINI]Ikutan trend jangan maksain diri

Dari jaman saya masih abege (sok) ghahol dulu, sampe sekarang saya udah punya anak, ga lepas saya memperhatikan soal tren gaul anak muda. Kalau diingat-ingat, jaman saya tahun 90-an dulu, saya juga mungkin se-alay anak remaja sekarang. Kaos jaman dulu yang sering dipake yang bergambar Fido Dido, celana merk Alien Workshop, sepatau pakai LA GEAR Light (sepatu berlampu..haha) sampe gaya rambut belah tengah ala Andy Lau..wkwkwkwk. Semua itu demi dianggap gaul ama teman-teman saya.
Sampai sekarang pun saya masih mengamati, apasih tren anak muda sekarang. Ada yang tau? Yup! all about Korea, dari fashion, lifestyle, musik bahkan bahasanya. Wow, internet membuat informasi yang didapat menjadi lebih mudah. Dari internet lah segala sumber informasi, dari fashion sampai bahasa tadi. Pas saya remaja dulu, internet masih bisa dihitung dengan jari. Jadi informasi yang didapat pun juga ga utuh. Contohnya kaya saya tadi, campur-campur jadinya, hahaha.
Itu saya pas SMA...rambutnya itu loh..HA..HA..HA
 Tapi satu hal yang saya amati, bikin saya senyum sendiri. Kadang adopsi tren tersebut tiap individu kok kayanya terkesan dipaksakan. Ambil contoh, si A pengen pake frame kacamata yang sama kaya bintang Korea si Anu, dipaksakan juga dipakai meski wajahnya sendiri sebenarnya ga cocok buat pakai frame kacamata seperti itu. Kesannya jadi ga matching banget. Pokoknya Korea lah...hihi. Atau, tentang model rambut (Ya! Saya benar-benar menemuinya!) seorang cowok rambutnya ditata ala idola Korea-nya..hihi.
Bagus sih memang, kalo pas sama orangnya. Kalo ga pas kok kayanya ga perlu dipaksakan. Jadinya bukannya kalian keliatan lebih cakep tapi malah jadi bahan tertawaan. Cobalah cari syle yang cocok buat dirimu n ambil yang sekiranya masih nyambung ama tema. Ga ada salahnya menciptakan tren sendiri, meski masih berbau Korea. Ga harus kita berubah benjadi orang sana. Toh yang keliatan ama kita cuma artis-artinya saja. Banyak orang Korea yang ternyata biasa-biasa saja.haha.


Kalo saya sih sampai sekarang masih ngikut tren kaya gini :D

Tren "Death Metal"..hahahaha

[OPINI]Siapkah anda menerima kritik?

Suatu ketika saya pernah menulis opini saya, ya mungkin menuju ke arah kritik. Meski kritik itu saya akui sendiri tidak mempunyai arah, karena saya sendiri tidak tahu harus kemana saya sampaikan kritik tersebut. Namun saya mendapatkan respon yang luar biasa mengejutkan. Opini saya dibalas komen, lumayan lah, saya menanggapi komen tersebut sampai beberapa kali. Sampai saya bingung sendiri dan bertanya, apakah orang-orang ini lah sebenarnya yang jadi sasaran kritik saya.
Semakin saya mencermati berbagai respon yang pernah masuk, semakin saya tergelitik. Bagaimanakah seandainya saya menulis opini saya, langsung saya sebutkan nama orang atau organisasinya saja. Mungkin responnya bakal lebih heboh lagi. Dari situ saya bisa menarik sedikit kesimpulan, ternyata orang-orang yang pernah menyampaikann komen tersebut belum pernah mendapatkan suatu kritik, atau belum tahu bagaimana menerima sebuah kritik atau opini.
Meski memang respon tersebut adalah hak tiap orang untuk menentukan, bagaimana cara menjawab kritik, tapi caranya sendiri bisa menunjukkan bagaimana level intelektualitas tiap individunya. Apakah suatau kritik bisa dihadapi dengan logika dan akal sehat, tentunya dengan kepala dingin, atau ditanggapi dengan emosional. Hal ini juga bisa diambil kesimpulan, bagaimana seseorang tersebut bersikap kepada orang lain sehari-harinya. Apakah dia orang yang mudah bersahabat, menghormati orang lain atau orang egois yang gila hormat. Ya, mau ngapain juga terserah orangnya kan? Tapi kok ya masih menemui orang-orang emosional kaya gitu. Apa orang Surabaya memang kaya gitu? Moga saja tidak.
Mungkin selama ini saya bersikap, "Yah, diterima aja lah! Emang udah digariskan begitu..", tapi kadang saya menemui hal-hal lucu, yang kalau dipikir-pikir agak aneh. Untuk ukuran setingkat umur mahasiswa sekarang, saya kira umur yang sudah dibilang dewasa, menurut saya. Tapi pola pikir baik secara individu maupun dalam berorganisasi masih belum sinkron dengan levelnya. Kalau dibilang saya random mengambil contoh, iya benar. Tapi kelihatan sekali bahwa saya masih menemui orang-orang yang tak terima bila diberi opini berupa kritik. 
Di sini saya belajar, kita semua belajar. Saya menerima bila ada tahapan dan proses dalam belajar. Tidak ada orang yang belajar langsung jadi pintar. Moga saja saya bisa terus belajar menerima kritik. Karena tanpa adanya kritik, saya tidak akan berkembang. Namun sebagai mahasiswa, saya berusaha menyampaikan kritik dengan lebih terarah, dan lebih intelek (menurut komentar seseorang :D ).