Kamis, 22 Desember 2011

[OPINI]Ibu

IBU
Bagaimana di dalam pikiran kalian mendengar kata itu? Kangenkah? Senang? Sedih? Atau merasa bersalah? Setiap kita pasti pernah mendengar kata IBU, bahkan mungkin itulah kata yang paling kita ucapkan, yah walau cuma waktu kita kecil saja. Pernahkah kita melupakan sosok ibu dalam hidup kita?Mungkin saat kita sukses, gembira atas keja keras kita, kita melupakan peran ibu dalam mendukung kesuksesan kita. Mungkin kita melupakannya saat menikmati kesuksesan kita. Namun faktanya peran ibu dibalik orang-orang yang sukses sangatlah besar. Mungkin selama ini kita belum menyadarinya.
Banyak sekali contoh-contoh perjuangan seorang ibu bagi kesuksesan anaknya. Mereka bahkan mempertaruhkan nyawa agar kita bisa lahir dengan selamat ke dunia ini. Sungguh apabila kita hitung jasa seorang ibu, tidak akan kita dapatkan angka pastinya, melainkan sebuah ketakjuban, bahwa ternyata kita takkan bisa membalas jasa ibu kita.
Namun, kadang kita temui anak-anak yang tak menyadari perjuangan seorang ibu, bahkan menghilangkan perannya dalam kehidupannya. Ada yang malu mempunyai ibu seorang pembantu, atau malu mempunyai ibu yang biasa saja. Padahal tak ada yang bisa membandingkan perannya dalam kehidupan, meski tak menyertakan apa status ibunya di dunia, apakah seorang istri pejabat atau pembantu rumah tangga sekalipun. Sungguh sayang, bahkan di depan orang banyak bisa menghina seorang ibu, hanya karena tidak membelikan apa yang anak itu inginkan. Seolah pendidikan moral yang ditanamkan lenyap begitu saja.
Dan, apabila kita telah kehilangan ibu kita, hanya kesedihan dan penyesalan yang panjang. Kita tak pernah menyadari pentingnya peran seorang ibu bagi kita, sebelum kehilangannya. Jangan sampai lah kita seperti itu. Kasih ibu dari dia hidup sampai akhir hayatnya, janganlah kita sia-siakan. Doa-doa yang beliau panjatkan demi keberhasilan kita janganlah kita salahgunakan. Tunjukkanlah kepadanya bahwa kita bisa menjadi orang yang diharapkannya.
 
Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.


Rabu, 21 Desember 2011

[RESENSI]GUNG HO


Rilis    : March 14, 1986
Genre : Comedy, Drama
Sutradara : Ron Howard, Tony Ganz
Pemain : Michael Keaton, Gedde Watanabe, George Wendt, Mimi Rogers, John Turturro, So Yamamura, Sab Shimono, Rick Overton, Clint Howard, Jihmi Kennedy, Michelle Johnson, Rodney Kageyama, Rance Howard, Patti Yasutake, Jerry Tondo, Dennis Sakamoto, Stanford Egi, Martin Ferrero, James Ritz, Dock P Ellis Jr., Richard M McNally, Jean Speegle, Thomas Ikeda, Noboru Kataoka, Mariye Inouye
Produser : Ron Howard, Tony Ganz, Deborah Blum, Jan R Lloyd
Penulis Naskah : Lowell Ganz, Babaloo Mandel, Edwin Blum



Cerita bermula ketika Hunt Stevenson (Michael Keaton) ditunjuk untuk mewakili para pekerja di sebuah kota di Hadleyville, Pensylvania untuk pergi ke Jepang melakukan presentasi kepada para pimpinan Assan mobil, agar membuka kembali pabrik mobil yang sebelumnya telah ditutup di kota tersebut. Dia berharap mereka mau “menghidupkan” kembali pabrik dahulunya mengalami kebangkrutan tersebut, karena banyak penduduk kota yang tinggal di sekitar pabrik yang menggantungkan hidupnya dari pabrik mobil tersebut, sekaligus menyelamatkan warga kota tersebut dari keterpurukan ekonomi.

Dengan presentasi yang ala kadarnya di depan dewan direksi Assan Motor, semula Stevenson menganggap usaha yang dilakukannya ini tidak  berhasil,  tetapi  ternyata selang beberapa  hari setelah kembali ke Amerika Serikat, Hunt mendapatkan kabar bahwa pihak Assan Motor Company bersedia membuka kembali pabrik itu. Hal ini tentunya disambut gembira oleh seluruh warga Hadleyville. Penyambutan meriah pun dilakukan oleh penduduk kota.

Dalam rangka menjalankan kembali pabrik, Assan Motor menunjuk Hunt Stevenson sebagai mediator atau penghubung antara kepentingan para pekerja dengan pimpinan dan staf pabrik untuk melakukan pendekatan kepada warga Hadleyville agar bekerja kembali di pabrik motor tersebut.

Mula-mula gaya kepemimpinan ala Jepang yang diberlakukan oleh Kozihiro dianggap masih wajar oleh para pekerja, namun lama kelamaan ketatnya peraturan yang diberikan oleh pihak manajemen dari Jepang tersebut membuat marah para pekerja. Kahirnya muncul gesekan antara para pekerja, manajeman dan bahkan dengan Hunt sendiri. Namun Hunt dapat meyakinkan bahwa pabrik akan terus berjalan, bahkan apabila pekerja dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh manajemen untuk memproduksi 15 ribu mobil, agar upah pekerja dinaikkan.

Namun dalam prakteknya, Hunt menemui kesulitan dalam memproduksi 15 ribu mobil. Bahkan dia harus berbohong agar para pekerja tetap mau bekerja mengejar target tersebut.
Di film ini banyak sekali hal-hal yang kita petik pelajaran, meski dalam film tersebut penuh dengan kelucuan karena usaha memadukan gaya kepemimpinan Jepang yang super ketat dan kaku, serta kepemipinan ala Amerika yang lebih manusiawi. Keduanya mempunyai kelebihan, meski tidak bisa ditampik tentang adanya kekurangan. Namun, sosok pemimpin dalam film ini dapat memberikan pelajaran di kehidupan nyata bahwa seorang pemimpin itu tidak harus melulu seperti orang Jepang yang kaku seperti robot, atau tidak harus santai terus seperti orang Amerika, namun kita dapat mengambil hal-hal yang baik darinya.

[OPINI]Sekolah untukmu

Kalau mau sekolah..
Kudu kerja dulu…
Jadi sekolah buat apa kak?
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, dari Yatun, anak perempuan asongan yang berjualan di pelataran Monas, Jakarta. Sebelumnya saya bertanya, kenapa jualan asongan? Dan mengapa dia tak bersekolah?
Saya juga bingung menjawabnya. Sungguh sebuah kenyataan yang baru sekarang saya menyadarinya. Yah, meski banyak anak usia sekolah yang kebetulan beruntung mendapatkan pendidikan, lebih sering dicekoki apa cita-cita mereka nantinya setelah lulus sekolah, namun pertanyaan tadi menunjukkan betapa sekolah pun belum cukup menjamin kelangsungan hidup anak-anak seperti Yatun. Minimal untuk mendapatkan nafkah.
Kadang di masa menuntut ilmu kita belum menyadari benar apa tujuan kita dalam menuntut ilmu itu sendiri. Padahal kenyataan di lapangan, betapa susahnya mendapatkan pekerjaan, atau bahkan ikut dalam persaingan ketika kita berusaha menciptakan lahan usaha baru.
Tulisan ini bukan untuk menurunkan semangat kalian dalam menuntut ilmu. Namun sekedar memberi gambaran, bahwa dunia kerja nantinya adalah dunia yang keras, suatu usaha survival yang membutuhkan semangat dan keuletan agar tidak hanyut atau bahkn tenggelam dalam persaingan.
Untuk saat ini saya hanya bisa menjawab kepada Yatun, “ Kalau kamu sekolah, kerjaan kamu ga bakal kaya gini terus. Bisa jadi nanti kamu kerja di kantor atau kamu punya perusahaan sendiri”