Jumat, 23 Desember 2011

[OPINI] Foto sebagai sumber informasi sejarah



Kalau kita lihat foto-foto di atas, pernahkah kita lihat di buku-buku pelajaran sejarah kita? Sangat jarang bukan? Foto-foto ini adalah sebagian yang dipamerkan di galeri House of Sampoerna, Surabaya. Foto-foto ini juga terpajang di galeri foto jurnalistik Antara di Pasar Baru Jakarta.
Sungguh bagi saya yang pertama kali melihatnya, ini adalah sisi lain dari sejarah yang baru saya ketahui. Sejarah yang hanya menampilkan foto dan literatur yang terbatas, sisanya dituangkan di sini. Digambarkan bahwa dalam foto-foto ini sosok yang sangat kita kenal, namun dalam sudut pandang yang berbeda. Kalau dalam buku-buku sejarah ditampilkan foto-foto heroik perjuangan bangsa kita, namun kali ini kita lihat sisi lembut mereka, yang bagi saya patut untuk ditampilkan pula. Bahkan teman saya sempat terpana oleh ketampanan Jenderal Soedirman yang difoto ketika masa mudanya, hehe
Yah, kadang kita harus melihat dari sudut pandang yang lain dalam menikmati sejarah, meski lewat foto tapi bisa memuaskan hasrat kita untuk belajar melalui peristiwa-peristiwa yang terekam dalam foto tersebut.

[OPINI]Band yang bisa bertahan

Banyak musisi baru bermunculan di kancah musik negeri ini. Banyak yang cepat populer, namun banyak pula yang cepat tenggelam. Bagaimana para produser musik menyeleksi para calon artisnya, apakah dengan konsep "asal laris" atau memang berdasar atas "kualitas".
Namun saya sendiri menemui beberapa band berkualitas, yang masih punya massa dengan musik yang berkualitas pula, masih bisa bertahan di kancah musik sekarang. Kebanyakan band tersebut tidak meniru apa yang sedang hits sekarang, namun mempunyai ciri khas yang malah ditiru oleh band-band baru sekarang.
Apakah ini wujud kreatifitas yang terbelenggu aturan pasar? Mungkin iya, namun kita juga tak bisa memalingkan muka dari kondisi konsumennya. apakah cukup cerdas menikmati musik yang berkualitas, atau juga hanya bisa ikut arus tren yang sudah ada. Sungguh disayangkan bahwa band baru yang muncul secara bombastis namun akhirnya tenggelam dengan umur yang sebentar saja, sekedar mengisi kancah musik negri ini sementara saja.

[OPINI]Narsis, tapi ya jangan kebangetan

Di era kamera digital murah, bahkan yang ada di handphone kita, kalau kita amati semakin banyak kasus foto bugil atau video porno yang beredar, yang ironisnya di dalamnya terpampang wajah si pemilik gadget. Lucu bukan? Itulah wujud ketidaktahuan kita terhadap teknologi yang bisa dimodifikasi atau diutak-atik. Bingung? Kita bahas dulu awal mulanya.
NARSIS
Dengan buaian teknologi fotografi sekarang, orang dengan mudah memotret, termasuk memotret dirinya sendiri dengan berbagai gaya. Sah-sah saja sih, lagi pula kita narsis hanya untuk dinikmata orang-orang terbatas saja. Dimana-mana tempat kita datangi, sebagai bukti kita di sana, kita foto. Kita melakukan hal-hal asik, kita pamerin dengan foto kita di sana. Atau lagi galu dan suntuk ama tugas, iseng-iseng kita berfoto untuk sekedar mengisi waktu galau kita, hehe

Namun kadang narsis ini mulai kebablasan. entah apa yang ada di benak mereka yang berfoto dengan pose aneh-aneh bahkan sampai bugil dan sebagainya. Mereka tidak menyadari resiko di balik itu. Di negara kita yang sangat menjunjung tinggi adat kesopanan, bahkan ada hukumnya secara khusus mengatur tentang pornografi, namun mereka dengan santainya berpose bugil dengan dalih narsis.

Sampai saat gadget mereka hilang atau memory card hilang. Mereka tidak menyadari kecanggihan teknologi bisa merestore file-file yang sudah bisa dihapus dari memory card. Maka muncullah foto-foto mereka di internet, bertebaran dan berpindah secara cepat. Setelah itu hanya tinggal penyesalan. Maka hati-hatilah kalau kalian narsis. Narsisnya yang wajar saja, jangan berlebihan, kalau tak mau mendapat malu di akhirnya.